Setiap pagi sebelum matahari terbit, Hasan sudah bangun. Ia bukan orang penting di kota kecil itu. Ia hanya penjual teh di pinggir jalan dekat pasar. Gerobaknya sederhana, kayunya mulai kusam, dan roda kanannya sering berbunyi ketika didorong.
Namun Hasan selalu berjalan pelan, seolah setiap langkahnya sedang mendengarkan sesuatu yang tak terdengar oleh orang lain.
Ia menyalakan kompor kecilnya. Air mendidih. Uap tipis naik ke udara pagi. Hasan memandang uap itu sambil berbisik pelan, “Begitulah hidup… muncul sebentar, lalu hilang.”
Orang-orang datang silih berganti. Buruh bangunan, sopir angkot, pedagang sayur. Mereka minum teh panas sambil mengeluh tentang harga barang, tentang keluarga, tentang hutang piutang, tentang nasib yang terasa berat.
Hasan jarang berbicara banyak. Ia hanya mendengarkan. Suatu hari seorang pelanggan tetapnya, seorang tukang becak bernama Karim, bertanya,
“San, kenapa kau selalu terlihat tenang? Padahal hidupmu juga sederhana.”
Hasan menuangkan teh ke gelas kaca yang sudah retak di pinggirnya. Mungkin jika gelas itu bisa bernyanyi ia akan bernyanyi “aku lah gelas yang retak jangan tuangkan air tak mungkin Tak mampu, aku tak mampu Menghilangkan dahagamu” penggalan lirik dari Mansyur S
“Karim,” katanya pelan, “dulu aku juga seperti orang lain. Selalu merasa hidup kurang.”
“Lalu?”
“Aku mengejar banyak hal. Uang, pekerjaan yang lebih baik, bahkan pujian orang. Tapi semakin aku mengejar, semakin hatiku terasa kosong.”
Karim mengangguk. Ia merasa sangat mengenal perasaan itu. Hasan melanjutkan,
“Suatu malam aku bertanya pada diriku sendiri: kenapa hati ini tidak pernah penuh?”
“Lalu kau menemukan jawabannya?”
Hasan tersenyum tipis.
“Bukan aku yang menemukan jawabannya. Justru ketika aku berhenti mencari, jawabannya datang.”
Karim mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
Hasan menunjuk cangkir teh. “Teh ini akan terasa pahit jika kita terlalu banyak mengaduknya.” Karim tertawa kecil.
“Jadi hidup jangan terlalu banyak diaduk?”
Hasan menggeleng pelan.
“Bukan itu. Maksudnya, hati manusia sering gelisah karena terlalu sibuk memikirkan dunia. Kita ingin masa depan yang pasti, rezeki yang lebih, hidup yang lebih baik dari orang lain.”
Ia berhenti sebentar.
“Padahal hidup ini bukan milik kita.”
Karim terdiam.
“Kalau begitu milik siapa?”
Hasan memandang langit pagi yang mulai terang.
“Milik Dia yang memberi napas ini.”
Angin pagi berhembus membawa aroma pasar yang mulai ramai.
Hasan berkata lagi,
“Dalam tasawuf, para sufi berkata: manusia gelisah bukan karena hidupnya sulit, tetapi karena ia merasa dirinya pemilik hidup.”
“Padahal?”
“Padahal kita hanya tamu.”
Karim memandang jalanan yang mulai ramai. Tiba-tiba kata-kata itu terasa sangat dalam.
Hasan melanjutkan dengan suara lembut,
“Ketika seseorang sadar bahwa ia hanya tamu, ia tidak akan terlalu marah ketika kehilangan. Ia tidak akan terlalu sombong ketika mendapatkan.”
Karim menatap Hasan lama.
“San… apakah itu yang membuatmu tenang?”
Hasan tertawa kecil.
“Tidak juga. Hatiku masih sering gelisah.”
“Lalu?”
Hasan menaruh tangannya di dada.
“Aku hanya belajar satu hal setiap hari: kembali.”
“Kembali ke mana?”
Hasan menjawab pelan,
“Ke dalam.”
Ia memejamkan mata sejenak.
“Di dalam hati manusia ada tempat yang sunyi. Jika kita sampai ke sana, kita akan menemukan sesuatu yang selalu ada sejak awal.”
Karim berbisik,
“Apa itu?”
Hasan membuka mata dan berkata,
“Keberadaan Tuhan.”
Keramaian pasar semakin keras. Orang-orang berlalu lalang. Suara motor, tawar-menawar, dan teriakan pedagang bercampur menjadi satu.
Namun di sudut kecil gerobak teh itu, Karim merasakan sesuatu yang aneh: sejenis ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Hasan lalu berkata lagi,
“Hidup sehari-hari sebenarnya adalah jalan tasawuf.”
Karim terkejut.
“Bagaimana bisa?”
“Ketika kau mengayuh becak dengan jujur, itu ibadah. Ketika kau menerima rezeki kecil tanpa iri, itu latihan hati. Ketika kau sabar menghadapi hidup, itu perjalanan menuju Tuhan.”
Hasan mengangkat gelas tehnya dan menatap cairan hangat di dalamnya.
“Para sufi tidak selalu tinggal di gunung atau di masjid. Kadang mereka ada di pasar, di jalan, di antara orang-orang biasa.”
Karim tersenyum.
“Seperti penjual teh?”
Hasan tertawa pelan.
“Bukan. Seperti orang yang sedang belajar pulang.”
Hari semakin siang. Karim berdiri dan membayar tehnya.
Sebelum pergi, ia berkata,
“San… hari ini aku merasa jalanan tidak seberat biasanya.”
Hasan hanya tersenyum.
Karim lalu mengayuh becaknya kembali ke jalan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari sesuatu yang sederhana: bahwa kehidupan bukan hanya tentang bekerja, makan, dan bertahan hidup.
Tetapi tentang menemukan Tuhan di tengah hal-hal kecil yang selama ini kita anggap biasa.
Sementara itu Hasan kembali menuang teh untuk pelanggan berikutnya.
Di tengah hiruk pikuk dunia, ia tetap berdiri di tempat kecilnya—
mengaduk teh, mengaduk waktu, dan perlahan membersihkan hatinya dari rasa memiliki apa pun selain Tuhan.





