Dari jalan setapak yang diapit deretan warung sederhana, langkah perlahan membawa kami semakin dekat ke pusat kawasan ziarah. Suasana terasa berbeda. Keramaian peziarah masih ada, tetapi tidak gaduh. Orang-orang berjalan dengan tenang, sebagian membawa anak-anak, sebagian lainnya berjalan sendiri sambil menundukkan kepala.

Di bawah rindangnya pepohonan tua, bangunan-bangunan sederhana berdiri mengelilingi kompleks makam. Cahaya matahari menembus sela daun, jatuh di atas jalan setapak yang sudah dilalui ribuan peziarah selama bertahun-tahun.

Tak jauh dari jalur utama, terdapat area pemandian dan tempat wudhu yang dikenal sebagai Sumur Awisan Syekh Quro. Air menjadi bagian penting dalam tradisi perjalanan menuju makam. Bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan spiritual selalu dimulai dari upaya membersihkan diri.

Di sisi lain kompleks berdiri sebuah masjid yang tenang. Beberapa peziarah memilih duduk sejenak di dalamnya. Ada yang membaca Al-Qur'an, ada yang berzikir, ada pula yang hanya diam menikmati ketenangan.

Di dalam ruangan masjid, cahaya masuk melalui jendela-jendela tua. Karpet terbentang sederhana. Tidak ada kemewahan yang berlebihan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat suasana terasa akrab dan menenangkan.

Semakin ke dalam, kami sampai di halaman depan makam Syekh Darugem atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Syekh Bentong. Pepohonan besar menaungi area makam, membuat udara terasa lebih sejuk meski matahari mulai meninggi.

Di tempat inilah banyak peziarah berhenti lebih lama. Sebagian membaca doa. Sebagian mengirimkan Al-Fatihah. Sebagian lagi hanya duduk dalam diam, membiarkan pikirannya beristirahat sejenak dari kesibukan dunia.

Yang terasa bukanlah kemegahan bangunan, melainkan jejak waktu yang masih hidup. Nama-nama para ulama yang dahulu menyebarkan Islam di tanah Karawang terus dikenang melalui langkah-langkah para peziarah yang datang silih berganti.

Perjalanan menuju makam ternyata bukan hanya perjalanan fisik dari gerbang menuju sebuah bangunan tua. Ia juga perjalanan untuk memperlambat langkah, menenangkan pikiran, dan mengingat kembali bahwa setiap manusia pada akhirnya akan pulang kepada Sang Pencipta.