Di sebuah desa kecil yang tenang, hiduplah seorang lelaki bernama Warsino. Ia bukan orang kaya, bukan pula seorang ulama besar. Ia hanya seorang penjual kayu bakar yang setiap hari berjalan ke hutan sejak fajar menyingsing.

Hidupnya sederhana. Rumahnya dari bambu, pakaiannya biasa saja, dan makanannya sering kali hanya nasi dengan garam. Namun orang-orang desa sering melihat sesuatu yang aneh pada dirinya: wajahnya selalu tenang, seolah hatinya tidak pernah diganggu oleh dunia.

Suatu hari seorang pemuda bernama Faizal datang kepadanya.

“Aku ingin belajar tentang kehidupan, Orang-orang berkata engkau memiliki rahasia ketenangan.” Katanya.

Warsino tersenyum kecil.

“Kalau kau ingin belajar,” katanya pelan, “ikutlah aku besok pagi.”

Keesokan harinya mereka berjalan ke hutan. Di tengah jalan, Warsino berhenti di tepi sungai dan mengambil segenggam air.

“Lihat air ini,” katanya.

“Air ini jernih,” jawab Faizal.

Warsino lalu mengaduknya dengan tongkat hingga air menjadi keruh.

“Sekarang bagaimana?”

“Keruh.”

Warsino kemudian menunggu beberapa saat. Lumpur itu perlahan mengendap dan air kembali jernih.

“Begitulah hati manusia,” kata Warsino. “Jika terus kita aduk dengan keinginan, iri, dan kemarahan, ia akan keruh. Tapi jika kita diam sejenak, mengingat Tuhan, semuanya akan kembali jernih.”

Faizal terdiam.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di hutan. Warsino memungut kayu dengan tenang sambil sesekali berzikir lirih.

“Kenapa engkau tidak mencari kehidupan yang lebih mudah?” tanya Faizal

Warsino tersenyum lagi.

“Anak muda,” katanya, “hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki. Hidup adalah perjalanan pulang.”

“Pulang ke mana?”

Warsino menunjuk ke langit.

“Ke Dia.”

Faizal merasa dadanya bergetar.

Warsino melanjutkan, “Tasawuf bukan berarti meninggalkan dunia. Tasawuf adalah membersihkan hati ketika berada di dunia. Tanganmu boleh bekerja, tetapi hatimu harus tetap bersama Tuhan.”

Hari mulai sore. Matahari tenggelam di balik pepohonan, memancarkan cahaya keemasan.

Faizal memandang Warsino yang berjalan di depannya. Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu: lelaki sederhana itu berjalan seolah tidak memikul beban dunia.

Di dalam hatinya, Faizal berbisik,

“Mungkin beginilah rasanya hidup ketika hati sudah menemukan jalan pulang.”

Dan sejak hari itu, Faizal mulai belajar satu hal kecil setiap hari: bekerja dengan tangannya, tetapi menyerahkan hatinya kepada Tuhan. Sebab ia mulai memahami,
bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan mencari dunia,
melainkan perjalanan menemukan Cahaya yang selalu menunggu di dalam hati.