Menjelang Hari Raya Idul Adha yang tinggal menghitung hari, Gus Baha mengingatkan masyarakat tentang makna terdalam ibadah qurban.

Dalam berbagai ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa qurban bukan sekadar menyembelih hewan pada momen Idul Adha, melainkan bentuk latihan keikhlasan, pengorbanan, serta cara manusia membersihkan hati dari kesombongan dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Penjelasan itu disampaikan Gus Baha melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai simbol ketaatan seorang hamba kepada Allah. Menurut beliau, inti qurban bukan terletak pada besar kecilnya hewan yang disembelih, tetapi pada ketakwaan dan keikhlasan hati seseorang ketika memberi.

Beliau sering mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, yang sebenarnya diuji bukan hanya keberanian atau pengorbanan fisik, tetapi sejauh mana cinta seorang hamba kepada Allah melebihi cinta kepada harta, keluarga, dan dunia.

Dari kisah itu, qurban menjadi pelajaran besar tentang keikhlasan.

Qurban mengajarkan manusia:

  • untuk tidak terlalu melekat pada harta,
  • belajar ikhlas memberi,
  • dan memahami bahwa semua rezeki hanyalah titipan Allah.

Dengan gaya sederhana namun sangat dalam, Gus Baha sering mengatakan:

“Yang sampai kepada Allah itu bukan darah dan dagingnya, tetapi ketakwaan dan keikhlasan kita.”

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Menurut Gus Baha, Allah tidak membutuhkan sapi, kambing, ataupun harta manusia. Yang Allah lihat adalah hati seseorang ketika memberi:
apakah penuh keikhlasan,
atau hanya sekadar ingin dipuji manusia.

Karena itu, qurban bukan ajang gengsi sosial.
Bukan tentang siapa yang hewannya paling besar.
Bukan pula tentang ingin dianggap mampu oleh lingkungan sekitar.

Sebab terkadang manusia mampu membeli hewan qurban, tetapi belum tentu mampu mengorbankan:

  • rasa sombong,
  • sifat kikir,
  • gengsi,
  • dan keinginan untuk selalu dianggap paling hebat.

Padahal qurban terbaik justru lahir dari hati yang tenang dan tulus, bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang memuji.

Gus Baha juga menjelaskan bahwa qurban memiliki nilai sosial yang sangat besar. Ketika daging dibagikan kepada tetangga, fakir miskin, dan masyarakat sekitar, di situlah Islam menghadirkan kebahagiaan dan rasa persaudaraan.

Ada orang yang mungkin jarang makan daging selama setahun, tetapi pada Hari Raya Qurban mereka bisa ikut merasakan nikmat dan kebahagiaan bersama.

Beliau pernah menasihati:

“Kalau punya kemampuan untuk qurban, jangan terlalu banyak hitung-hitungan dunia. Karena qurban itu latihan percaya bahwa Allah mampu mengganti apa yang kita keluarkan.”

Dari semua penjelasan itu, tersimpan makna yang sangat dalam:

Manusia sering ingin memiliki segalanya.
Ingin mempertahankan semua yang dicintainya.
Namun qurban mengajarkan bahwa hidup justru menjadi lebih ringan ketika kita belajar melepaskan sesuatu karena Allah.

Karena pada akhirnya:

  • harta akan ditinggalkan,
  • jabatan akan selesai,
  • nama besar akan memudar,
  • tetapi keikhlasan akan tetap tinggal di hadapan Allah.

Maka Hari Raya Qurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan, melainkan momentum untuk membersihkan hati,
mengurangi cinta dunia yang berlebihan, serta belajar menjadi manusia yang lebih ikhlas, lembut, dan peduli kepada sesama.