Yuval Noah Harari membawa kita menuju sebuah masa depan ketika manusia tidak lagi sekadar ingin bertahan hidup, tetapi mulai berusaha menaklukkan usia tua, kebahagiaan, kecerdasan, bahkan kematian.

Selama ribuan tahun, manusia hidup dengan kepala tertunduk di hadapan alam.

Hujan yang tidak turun dapat menghancurkan panen. Wabah penyakit mampu menghapus satu kota. Perang, kelaparan, dan kematian datang seperti takdir yang sulit dinegosiasikan.

Manusia berdoa agar diberi hujan. Memohon agar dijauhkan dari penyakit. Berharap keluarganya selamat dari peperangan. Hidup bukan tentang mengejar keabadian, melainkan tentang bertahan satu hari lebih lama.

Namun perlahan-lahan, keadaan berubah.

Manusia belajar membaca cuaca, mengolah tanah, membangun rumah sakit, menciptakan vaksin, menyusun pemerintahan, mengembangkan teknologi, dan membentuk sistem ekonomi yang mampu menghubungkan miliaran manusia.

Kelaparan belum sepenuhnya hilang. Wabah masih dapat muncul. Perang tetap terjadi. Akan tetapi, ketiganya tidak lagi selalu dipandang sebagai bencana yang tidak dapat dikendalikan.

Ketika wabah datang, manusia mencari virusnya.

Ketika pangan berkurang, manusia memperbaiki distribusinya.

Ketika perang pecah, manusia mencari kepentingan politik yang berada di belakangnya.

Peristiwa-peristiwa yang dahulu dianggap sebagai hukuman langit kini semakin dipahami sebagai persoalan teknis yang dapat diteliti, dikelola, dan mungkin diselesaikan.

Manusia kemudian berdiri lebih tegak.

Ia tidak lagi hanya berdoa agar selamat dari kematian. Ia mulai bertanya apakah kematian dapat ditunda.

Ia tidak lagi sekadar berharap hidup bahagia. Ia mulai berusaha menciptakan kebahagiaan melalui obat-obatan, teknologi, rekayasa biologis, dan pengaturan kimia di dalam tubuh.

Ia tidak lagi menerima tubuh sebagai takdir. Tubuh mulai dipandang sebagai sistem yang dapat diperbaiki, dimodifikasi, dan ditingkatkan.

Di titik itulah Yuval Noah Harari memulai kegelisahan dalam bukunya, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.

Setelah berhasil menjadi makhluk paling berkuasa di bumi, manusia mungkin sedang menyiapkan ambisi berikutnya: menjadi Tuhan.

Dari Homo Sapiens Menuju Homo Deus

Menurut Harari, agenda utama manusia pada masa depan akan berbeda dari agenda manusia pada masa lalu.

Selama berabad-abad, manusia berusaha mengatasi tiga persoalan besar: kelaparan, wabah, dan perang. Kini, sebagian umat manusia mulai mengarahkan perhatian pada tiga ambisi baru: keabadian, kebahagiaan, dan keilahian.

Keabadian tidak selalu berarti hidup selamanya. Dalam konteks ini, manusia berusaha memperpanjang usia, memperlambat penuaan, mengganti organ tubuh, serta mengurangi kemungkinan kematian akibat penyakit.