Di sebuah pasar tua tepatnya di Magelang, Jawa Tengah yang selalu ramai sejak fajar, ada seorang lelaki tua yang setiap hari duduk di sudut dekat penjual sayur. Ia tidak berjualan. Ia hanya duduk, memperh atikan orang-orang yang datang dan pergi.

Orang-orang memanggilnya Pak Hasan

Pasar itu penuh dengan suara: tawar-menawar, tawa pedagang, teriakan anak kecil, dan langkah kaki yang tak pernah berhenti. Bagi sebagian orang, pasar adalah tempat mencari uang. Bagi yang lain, pasar adalah tempat bertahan hidup.

Suatu pagi, seorang pemuda yang tampak gelisah duduk di samping Pak Hasan.

“Apa yang Bapak lihat setiap hari di pasar ini?” tanya pemuda itu.

Pak Hasan tersenyum pelan.

“Aku melihat kehidupan,” jawabnya.

Pemuda itu mengerutkan kening. “Kehidupan?”

Pak Hasan menunjuk seorang ibu yang sedang menawar cabai.

“Lihat ibu itu. Ia menawar seribu rupiah dengan sangat serius. Bukan karena ia pelit, tapi karena bagi hidupnya, seribu rupiah adalah harapan agar dapurnya tetap menyala.”

Lalu ia menunjuk seorang pedagang ikan yang tertawa keras.

“Lihat pedagang itu. Ia tertawa seolah hidupnya ringan. Padahal semalam mungkin ia gelisah memikirkan dagangan yang tidak laku.”

Pemuda itu terdiam.

Pak Hasan melanjutkan, “Pasar mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia.”

“Apa itu?”

“Bahwa hidup sebenarnya adalah tawar-menawar.”

Pemuda itu tampak bingung.

“Kita menawar waktu dengan pekerjaan. Kita menawar keinginan dengan kemampuan. Kita menawar mimpi dengan kenyataan.”

Ia berhenti sejenak, memperhatikan seorang kuli yang memikul karung beras berat.

“Dan sering kali,” kata Pak Rahman pelan, “yang kita kira kerugian, sebenarnya adalah harga yang harus dibayar agar kita menjadi manusia.”

Angin pagi lewat membawa aroma bawang dan tanah basah. Pemuda itu bertanya lagi, “Lalu apa pelajaran terbesar dari pasar ini, Pak?”

Pak Hasan tersenyum lebih dalam.

“Di pasar, semua orang datang dengan kebutuhan. Tapi pada akhirnya, semua orang pulang dengan cerita.”

Ia menatap keramaian orang yang berlalu-lalang.

“Begitulah hidup. Kita datang ke dunia membawa keinginan. Tapi yang kita bawa pulang sebenarnya bukan harta, bukan jabatan.”

Pemuda itu menatapnya serius.

“Lalu apa?”

Pak Hasan menjawab dengan suara yang hampir seperti bisikan.

“Makna.”

Keramaian pasar terus berjalan seperti biasa. Orang-orang datang, menawar, membeli, lalu pergi.

Namun bagi pemuda itu, pagi itu pasar tidak lagi hanya sekadar tempat jual beli.

Ia tiba-tiba merasa sedang melihat kehidupan itu sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari:

manusia bukan hanya sedang mencari nafkah di dunia.

Mereka sebenarnya sedang mencari arti hidupnya.